Monday, September 04, 2006

Perjalanan 2

Apakah waktu memang sengaja meninggalkanku di tengah padang ketersesatan?
Sementara laju kebisuan bagiku jauh terasa lebih ramai
ketimbang musik kroncong di arena pertunjukan alam bawah sadar ini,
Ketika kuputuskan untuk berlari, adakah jaminan seluruh asa sudah terbawa?
Padahal pagi buta adalah kesejukan
serta kesegaran raga yang amat,
Malaikat- malaikat langit menyertakan segenggam guratannya pada setengah malam yang tersisa,
Adakah mereka juga menyimpankan sekedar doa untuk kujadikan jimat?
Karena dualisme arah masih saja membuatku samar,
dan kemudian aku bermimpi sedang mendoakan diri.
Benarkah ketika semerbak bunga kamboja memainkan separuh hari
adalah bukti terseoknya pendirian hati?
Sementara puncak ekstase pencarian ini terletak pada raga yang wangi.
Dan inilah kesemrawutan.
Akankah kemarin bisa menjadi hari ini bagi jiwaku yang sekarang?
Ketika semuanya bertarung dalam keterputusan makna .Dan aku tetap disini,
Mencari kebajikan yang kadang tak teraba.
Lalu aku, entah siapa pada gulitanya warna surga.
Bagiku, waktu menjadi semakin renyah untuk dikunyah,
Menelan,
Memuntahkan,
Bagaimana yang hanya sejengkal dapat kujadikan lahan emas,
Sementara cangkul pun ikut menjadi tumpul.
Kemudian berjalan. Dengan bakiak yang koyak.