Monday, September 04, 2006

Perjalanan 2

Apakah waktu memang sengaja meninggalkanku di tengah padang ketersesatan?
Sementara laju kebisuan bagiku jauh terasa lebih ramai
ketimbang musik kroncong di arena pertunjukan alam bawah sadar ini,
Ketika kuputuskan untuk berlari, adakah jaminan seluruh asa sudah terbawa?
Padahal pagi buta adalah kesejukan
serta kesegaran raga yang amat,
Malaikat- malaikat langit menyertakan segenggam guratannya pada setengah malam yang tersisa,
Adakah mereka juga menyimpankan sekedar doa untuk kujadikan jimat?
Karena dualisme arah masih saja membuatku samar,
dan kemudian aku bermimpi sedang mendoakan diri.
Benarkah ketika semerbak bunga kamboja memainkan separuh hari
adalah bukti terseoknya pendirian hati?
Sementara puncak ekstase pencarian ini terletak pada raga yang wangi.
Dan inilah kesemrawutan.
Akankah kemarin bisa menjadi hari ini bagi jiwaku yang sekarang?
Ketika semuanya bertarung dalam keterputusan makna .Dan aku tetap disini,
Mencari kebajikan yang kadang tak teraba.
Lalu aku, entah siapa pada gulitanya warna surga.
Bagiku, waktu menjadi semakin renyah untuk dikunyah,
Menelan,
Memuntahkan,
Bagaimana yang hanya sejengkal dapat kujadikan lahan emas,
Sementara cangkul pun ikut menjadi tumpul.
Kemudian berjalan. Dengan bakiak yang koyak.

Friday, April 21, 2006

Ideologi

Apa.
Kenapa?
Siapa.
Kenapa?
Kapan.
Kenapa?
Dimana.
Kenapa?
Bagaimana.
Kenapa?
Kenapa......
Kenapa?

Bodoh!!!

Semakin aku mengalah pada keabstrakan pemaknaan jiwa ini,
Semakin jauh kutemukan ’ada’ dalam setiap lini bawah sadarku.
Mengerang pada realita absolut, yang seakan utopis untuk terwujud.
Membunuh kedirian setiap nafas,
Melegitimasikan asa, yang memanggul belati dibalik jubahnya.
Seandainya ’ada’ itu bisa diraba dalam segenggam pemahaman,
Dan kemudian tak usah lagi berkelana dalam rimbaNya,
Mungkin aku akan tahu ketidaktahuan diriku...
Semoga saja,

Friday, April 07, 2006

Gitu aja kok repot:p...

Coba,
Ayo dicoba saja....
Pejamkan mata,
tarik nafas dalam dalam.....
...............................................
Bagaimana?
Indahkan?
Dalam gelap, mungkin kita akan melihat keindahan yang lebih indah.
...............................................
Sekarang,
Buka mata,
Bagaimana?
Tetap indahkah?

Saturday, April 01, 2006

O.o...

Aku tidak akan pernah mengatasnamakan cinta untuk sebuah keterburu-buruan
Mendekati serambi dengan pakaian yang belum selesai kusulam
Gegabah itu namanya!
Aku ingin semua berjalan atas nama kemanusiaan,
Tanpa ada pergesekan dealektika yang melelahkan
Apalah salah manusia yang percaya pada janji Kekasihnya?

Maaf, mungkin belum waktunya untuk aku membukanya untukmu,
Aku hanya tidak ingin kunci itu tergantung pada pintu yang salah,
Ada masanya nanti,
Ketika semua kembali pada rasa dan kehendakNya.

Tak usahlah kau renggut semua benang yang hendak kupintal,
Pun tak kau tau hendak kuapakan,
Mungkin ada laju yang tak kau sadari telah memanjaku.

Perjalanan

Apa gerangan yang membuatmu datang lagi?
Tak cukupkah sabitan belati mengusirmu dari lelapku.
Aku cuman ingin tidur pulas malam ini, menikmati mimpi-mimpiku.
Dan kembali pada kedamaian cakrawala pagi, yang tak mungkin kau hadiahkan padaku saat senja.
Perjalannmu sengat melelahkan, sayang
Selalu kau ajak aku melewati bukit terjal, pohon-pohon rimbun, dan semak belukar
Yang sesekali menyisakan duri di ujung kakiku.
Belum lagi setumpuk jerami untuk alas malam sebelum pagi,
sementara orang –orang dapat terlelap dibalik selimut sulamannya.
Kau memang aneh,
Untuk perjalanan kemaren saja, tak pernah kau bolehkan aku membawa peta,
Kompas diatas mejapun sengaja kau tinggal,
Dan lagi-lagi kau biarkan aku tersesat, sesak dalam kebodohan.
Akh, berapa ’sih’ bejana madu yang akan kau janjikan?
Adakah itu benar-benar ada dalam bukit khayalanmu?
Kumohon...
Izinkan aku untuk tidak ikut serta
Aku capek,
Cukuplah kau sendiri mencari manusia berbekal baja.
Karena sendirinyapun kau sudah tahu,
Hanya batu kali yang membuat bekalku berat, bukan baja-baja itu.
Maka sejujurnya,
Aku lebih ingin bersahabat dengan damai.

Diskusi kopi

Selanjutnya,
Mungkin butuh satu atau dua percakapan lagi.
Sekedar memperpanjang cerita malam ini,
Atau,
Kau sudah lelah dan ingin beranjak pergi?
Jangan lupa, kopi di atas meja belum sempat kau cicipi.
Jangan katakan pahit kalau mencoba saja belum,
Sekedar memperpanjang malam dengan cerita ,
Marilah kita lanjutkan kisah arjuna.

Penghambaan

Hampir saja aku lupa dengan perjamuan Tuhan tadi malam
Padahal anggur merah yang disuguhkan,
Masih menyisakan rasa di sudut bibirku
Akh,
Terlalu singkat rupanya
Mungkinkah Tuhan mengiraku sudah kenyang?